Tuesday, September 1, 2009

KATA MAAF TERAKHIR', Ketika Maaf Tak Sekedar Kata

Pemain: Tio Pakusadewo, Maia Estianty, Ade Surya Akbar, Rachel Amanda, Kinaryosih, Dwi Sasono.

Apa arti kata maaf? Sekedar ucapan yang mudah meluncur dari mulut setiap kita melakukan kesalahan, atau satu penyesalan mendalam atas kesalahan yang harus kita tunaikan dengan ikhlas?

Tema itulah yang kali ini diangkat dalam film layar lebar terbaru Sinemart yang berjudul KATA MAAF TERAKHIR. Sebuah film drama keluarga, lengkap dengan pengkhianatan cinta dan persahabatan, yang merupakan kekerasan psikologi yang sukar dilupakan. Di mana pada akhirnya, maaf bukan sebuah kata yang mudah diucapkan. Bagaimana juga maaf adalah sesuatu yang penting dinyatakan dengan tulus, bukan hanya sebagai upacara ritual tahunan pada hari Lebaran, tetapi juga sebagai penyembuh jiwa.

Darma (Tio Pakusadewo) sedang menjalani bulan terakhir kehidupannya. Oleh karenanya ia membuat daftar hal-hal yang harus dilakukannya. Salah satu keinginannya yang paling sulit adalah memperoleh maaf dari ibu anak-anaknya, Dania (Maia Estianty), putra sulungnya, Reza (Ade Surya Akbar) dan putrinya, Lara (Rachel Amanda). Darma tahu, dia telah melukai mereka sedemikian dalamnya, hingga rasanya tak mungkin mereka akan bisa memaafkannya. Enam tahun yang lalu, Darma meninggalkan Dania, istrinya dan kedua anaknya, Reza dan Lara, karena menghamili Alina (Kinaryosih), sahabat Dania.

Darma tahu bahwa keluarganya sangatlah terpukul akan kejadian tersebut. Oleh karena itu selama ini, setiap Lebaran, dia tak pernah mencoba untuk datang menemui mereka. Darma tidak sanggup jika harus menghadapi kemarahan keluarganya.

Hingga suatu saat secara tak sengaja Darma bertemu dengan Lara. Ia berusaha keras mendekati Lara. Lara yang awalnya bimbang akhirnya luluh akan keinginan ayahnya. Karena jauh di dalam hatinya ia sangat merindukan peristiwa ini, di mana ia bisa bercengkrama kembali dengan ayahnya. Darma pun menyampaikan kondisi yang sedang dihadapinya. Lara pun mengalami dilema, karena di dalam hatinya ia ingin memenuhi keinginan ayahnya.

Film yang berdurasi 98 menit ini juga menggambarkan sosok wanita yang tegar dan mandiri, yang berhasil bangkit berdiri di atas kakinya sendiri setelah ditinggalkan suaminya, di mana ia dan kedua anaknya berjuang untuk berdamai dengan hati mereka masing-masing untuk dapat memberi sebuah kata maaf pada seorang suami dan ayah yang telah meninggalkan luka yang dalam di hati mereka.

Film yang juga dibintangi oleh Kinaryosih dan Dwi Sasono ini merupakan kolaborasi kedua antara sutradara Maruli Ara, dengan penulis skenario Leila S Chudori, di mana sebelumnya mereka telah sukses dalam serial televisi DUNIA TANPA KOMA. Di sini adalah debut mereka berdua dalam menggarap sebuah film.

Film yang bakal diputar serentak pada 27 Agustus mendatang menjadi debut Maia di layar lebar. Maia yang sebelumnya sudah pernah menjadi pemain di acara EXTRAVAGANZA, tentunya tak menemui kesulitan berarti ketika berakting di sini. Mungkin hanya adegan menangis yang ia anggap sulit, hal ini bisa dimaklumi karena cerita ini ada kemiripan dengan kisahnya di kehidupan nyata.

Tio Pakusadewo patut diacungi jempol, karena ia mampu 'menghidupkan' film yang mengambil lokasi syuting di daerah Jakarta, Anyer, Puncak, Cibodas, Cibubur dan Cibinong ini. KATA MAAF TERAKHIR ingin menyampaikan kepada penonton, hendaknya menjaga keutuhan keluarga, sebelum semuanya terlambat dan hanya sesal yang tertinggal. (kpl/prl/riz)

MERAH PUTIH', Bangkitkan Semangat Nasionalisme

Pemain: Lukman Sardi, Donny Alamsyah, Darius Sinathrya, Zumi Zola, Teuku Rifnu Wikana, Rahayu Saraswati.

Berawal dari keprihatinan tidak adanya film-film lokal yang mampu membangkitkan nasionalisme generasi muda, maka hadirlah film MERAH PUTIH yang hasil kerja sama PT Media Desa Indonesia dengan Margate House Ltd.

MERAH PUTIH berlatar belakang perjuangan bangsa Indonesia untuk merebut kemerdekaan pada tahun 1945. Tak peduli ras, agama dan suku, sekelompok pemuda bersatu untuk berjuang mendapatkan kemerdekaan. Mereka bertahan dari pembunuhan, berjuang dengan strategi gerilya, tak peduli konflik pribadi karena adanya perbedaan strata sosial, asal daerah dan kepribadian.

Film yang dibesut oleh Yadi Sugandi ini berusaha mengembalikan kembali semangat perjuangan bangsa Indonesia yang sedikit terlupakan. Dengan dibintangi pemain-pemain muda berbakat, seperti Lukman Sardi, Donny Alamsyah, Darius Sinathrya, dan Zumi Zola, MERAH PUTIH didukung beberapa ahli perfilman internasional.

Mulai dari Adam Howarth yang merupakan koordinator special effect yang membesut SAVING PRIVATE RYAN, Rocky McDonald sebagai koordinator pemeran pengganti dalam MISSION IMPOSIBLE II dan THE QUIET AMERICAN, dan Rob Trenton sebagai make up dan visual effect artist dalam BATMAN, THE DARK KNIGHT, serta ahli perfilman Hollywood lainnya.

Tak heran, film yang kabarnya menelan biaya hingga puluhan miliar ini menghadirkan gambar yang berkualitas. Adegan ledakan dan peperangan serta sinematografi yang indah menjadi kekuatan MERAH PUTIH. Ditambah lagi dihadirkan pada minggu perayaan HUT kemerdekaan RI ke-64, film ini diharapkan mampu mengembalikan rasa nasionalisme generasi muda yang mulai tergerus. (kpl/riz)

'MERANTAU', Saatnya Aksi Lokal Unjuk Gigi

Pemain: Iko Uwais, Siska Jesika, Christine Hakim, Donny Alamsyah, Yusuf Aulia, Laurent Buson, Alex Abbad, Mads Koudal.

Merantau adalah sebuah tradisi yang ada di Minangkabau, Sumatra Barat yang wajib dijalankan bagi setiap laki-laki yang tinggal di Minangkabau untuk pembelajaran diri. Tak terkecuali bagi Yuda (Iko Uwais), seorang pesilat Harimau. Ia harus merantau ke Jakarta, dan meninggalkan Minangkabau. Meski sang ibu, Wulan (Christine Hakim) melarangnya, tapi karena sudah bagian dari tradisi, maka Yuda tetap pergi meninggalkan ibunya, dan kakaknya Yayan (Donny Alamsyah) dengan tujuan menjadi guru silat.

Dari Minangkabau yang tenang dan penuh kenyamanan, Yuda harus berhadapan dengan kerasnya kehidupan di Jakarta. Tak kunjung menjadi guru silat, nasib pun mempertemukan dirinya dengan Adit (Yusuf Aulia) dan Astri (Siska Jesika), kakak beradik yang akhirnya menjadi korban sebuah organisasi human trafficking, pimpinan Ratger (Mads Koudal). Yuda pun tergerak hatinya untuk membantu Astri dan adiknya.

Yuda pun harus berhadapan dengan organisasi mafia, dan ia harus melawan kaki tangan Ratger, Luc (Laurent Buson) dan Johni (Alex Abbad) dan anak buahnya. Demi sebuah kebebasan, Yuda bersama Astri dan Adit melarikan diri dari para preman-preman dan mucikari yang terus mengejar mereka.

MERANTAU bisa menjadi jawaban atas 'kekekeringan' film-film Indonesia yang bermutu tapi juga tidak meninggalkan unsur entertainment di dalamnya. Film yang disutradarai oleh Gareth Evans, sutradara asal Inggris berusaha mengangkat salah satu kebudayaan asli Indonesia, yakni pencak silat ke dunia internasional.

Sebelum menggarap MERANTAU, Gareth terlebih dahulu melakukan research ke seluruh Indonesia mengenai pencak silat, dan pilihannya jatuh kepada pencak silat Harimau asal Minangkabau. Sebagai film dengan genre drama action, MERANTAU menyuguhkan adegan-adegan penuh action yang belum pernah ditayangkan di film laga lokal.

Dari sisi sinematografi, Gareth mampu menampilkan tontonan yang apik meski dengan budget 'terbatas', sekitar 15 miliar rupiah. Alhasil, adegan kejar-kejaran dan perkelahian melewati gang-gang sempit dan bahkan adegan ketika Yuda berkelahi di atas tumpukan-tumpukan bambu, terlihat sangat apik. Tak heran jika sebelum premier di Tanah Air, film ini telah mendapatkan standing applaus saat diputar di ajang film internasional di Korea dan Jogya beberapa waktu lalu.

Selain untuk mengangkat pencak silat, yang merupakan budaya asli Indonesia ke dunia internasional, MERANTAU ingin mengajak semua generasi muda Indonesia lebih mencintai dan bangga terhadap budaya asli Indonesia. Karena sesungguhnya, budaya asli Indonesia harus dipertahankan. Jika orang luar saja tertarik untuk membuat film dengan latar belakang budaya Tanah Air, kenapa kita yang lahir di Indonesia justru tidak bangga dengan budaya milik kita sendiri? (kpl/riz)

'DISASTER MOVIE', Saat Bencana Datang Tanpa Henti

Pemain: Carmen Electra, Kimberly Kardashian, Matt Lanter, Vanessa Minnillo, Crista Flanagan

Oleh: Fatchur Rochim

Dalam mimpinya, Will (Matt Lanter) seolah-olah adalah manusia gua yang hidup sepuluh ribu tahun sebelum Masehi. Dalam petualangannya Will bertemu dengan seorang wanita (Nicole Parker) yang meramalkan bahwa dunia akan hancur lebur pada tanggal 29 Agustus 2008. Tak ada yang bisa menghentikan bencana besar itu kecuali bila tengkorak kristal ditemukan.

Mengira bahwa mimpinya hanya sekedar mimpi buruk, Will pun tak terlalu mempedulikannya. Will lantas merencanakan sebuah pesta dan mengundang semua teman-temannya untuk datang. Celakanya, ketika pesta sedang berlangsung, tiba-tiba saja lampu padam dan bumi serasa berguncang. Dari sebuah berita di radio didapat informasi bahwa bencana akan datang dan bumi akan hancur lebur, tepat seperti dalam mimpi Will.

Pesta yang semula berjalan seperti rencana berubah menjadi kekacauan karena semua orang tak tahu apa yang harus mereka lakukan. Will yang juga sama bingungnya kemudian menerima telepon yang mengatakan bahwa Amy (Vanessa Minnillo) terjebak di dalam museum dan tak bisa keluar. Will pun segera menyusul ke museum untuk menyelamatkan Amy dan dari Amy pula Will sadar bahwa hanya ada satu cara untuk menghindar dari malapetaka yang akan menghancurkan bumi, menemukan tengkorak kristal.

Satu lagi film yang dibuat untuk menertawakan film-film lain yang telah lebih dulu beredar. Membuat film parodi seperti ini memang punya tingkat kesulitan lumayan tinggi. Yang pertama jelas membuat sebuah cerita yang memungkinkan untuk menyisipkan parodi-parodi dari film lain bukanlah pekerjaan yang mudah. Kalau terlalu berfokus pada parodi maka bisa jadi cerita dasar dari film ini yang jadi korban.

Dalam kasus DISASTER MOVIE ini justru itulah yang terjadi. Terlalu banyak parodi yang ingin dimasukkan sang penggagas film sampai-sampai cerita dasar dari film ini seolah lenyap begitu saja ditelan oleh parodi-parodi itu. Malahan bisa dibilang bahwa cerita dari film ini tak lagi penting. Ia ada hanya sekedar untuk merangkai tiap adegan agar menjadi sebuah film.

Soal lucu atau tidak, tentu saja tergantung dari selera humor Anda. Bila Anda tak keberatan dengan lelucon-lelucon kasar ala The Three Stooges atau Warkop Prambors di era 1980-an, bisa jadi film ini jadi lucu. Tak terlalu mengherankan bila film ini meraih enam nominasi penghargaan Golden Raspberry Awards termasuk untuk kategori Film Terburuk, Aktris Pendukung Terburuk, Sutradara Terburuk dan Naskah Film Terburuk. Film ini memang tak menawarkan apapun. (kpl/roc)

'THE PROPOSAL', Pura-Pura Menikah Demi Karir

Pemain: Sandra Bullock, Ryan Reynolds, Malin Akerman, Mary Steenburgen, Craig T. Nelson, Oscar Nuñez, Aasif Mandvi, Betty White

Oleh: Fatchur Rochim

Margaret Tate (Sandra Bullock) adalah tipe wanita 'berkuasa' yang tak segan-segan menindas para pria di kantor tempatnya bila hasil pekerjaan mereka tak sesuai dengan apa yang Margaret inginkan. Margaret tak pernah menyadari bahwa cepat atau lambat ia pasti 'memerlukan' bantuan anak buahnya.

Suatu hari, Margaret menghadapi masalah dengan petugas imigrasi dan wanita yang bekerja sebagai editor buku ini terancam dideportasi kembali ke Canada. Terlanjur menikmati kehidupannya di Amerika dan tak ingin karirnya berantakan, Margaret lalu mengaku bahwa ia akan menikah dengan Andrew Paxton (Ryan Reynolds), salah seorang anak buahnya.

'Pasangan mendadak' ini pun lantas berpura-pura bahwa mereka akan segera melangsungkan pernikahan dan memutuskan untuk berlibur di rumah Andrew agar semua tipu daya itu terlihat meyakinkan. Awalnya Andrew merasa keberatan namun karena Margaret memaksa, mau tak mau Andrew setuju meski ia juga mengajukan beberapa syarat untuk bantuannya itu.

Semuanya berjalan lancar sesuai dengan skenario Margaret. Keluarga Andrew sepertinya tak keberatan Andrew menikah dengan Margaret. Celakanya, di saat seharusnya mereka menikah, kesadaran dalam diri Margaret membuatnya memutuskan untuk membatalkan semua rencana gila itu.

Sebenarnya, dari sebuah ide kecil yang tak masuk akal sekalipun, seorang sutradara yang baik akan bisa membuat sebuah kisah menarik yang menghibur sekaligus bisa menjadi cermin buat para penonton. Untuk film berjudul THE PROPOSAL ini, Anne Fletcher, sang sutradara mencoba mengangkat tema standar yang banyak ditemukan pada film-film komedi romantis dan menjadikannya sebuah tontonan berdurasi 108 menit yang cukup menghibur.

Tak ada hal baru dalam film ini. Ide yang sama juga ditawarkan film A WALK IN THE CLOUDS yang mengangkat tema dasar 'pura-pura menikah' atau mungkin lebih tepat disebut 'pura-pura jadi sungguhan'. Sebenarnya itu sah-sah saja asal tak terjebak pada suguhan akhir yang juga terasa klasik. Soal yang satu ini, Anne banyak terbantu oleh dua pemeran utamanya yang cukup mumpuni. Sandra Bullock cukup efektif memerankan seorang wanita bertangan besi sementara Ryan Reynolds pun cukup meyakinkan tampil sebagai pria lugu yang tertindas.

Ini cukup mampu membuat THE PROPOSAL ini jadi suguhan yang menarik karena dengan pola standar, penonton pasti sudah tahu bagaimana akhir kisah, jadi tak ada gunanya membuat alur cerita jadi berbelit-belit yang akhirnya malah merusak kenikmatan menonton film ini. Sayangnya, naskah sepertinya kurang mampu membuat seluruh porsi jadi cukup meyakinkan. Buktinya di akhir cerita, ada kesan bahwa cerita jadi terburu-buru mengejar ending.

Bila sebelumnya Bullock dan Reynolds sudah tampil maksimal, saat mendekati ending justru mereka seolah tak mampu menghasilkan penampilan yang memuaskan. Karena naskah memang tak memungkinkan, chemistry yang semula sudah terbangun jadi berantakan. Tak ada cukup momen untuk membalikkan hubungan antara Bullock dan Reynolds sehingga akhir cerita malah terasa sedikit hambar. (kpl/roc)


LAND OF THE LOST', Terjebak di Dimensi Lain

Pemain: Will Ferrell, Anna Friel, Danny McBride, Jorma Taccone

Oleh: Fatchur Rochim

Rick Marshall (Will Ferrell) adalah seorang ahli purbakala yang berdedikasi tinggi. Namun karena teorinya yang dianggap tak masuk akal, Rick terpaksa harus turun pangkat dari seorang ilmuwan menjadi pengajar ilmu pengetahuan buat anak-anak. Suatu ketika Rick berhasil membuktikan bahwa teori perpindahan waktu yang ia kemukakan memang benar, sayangnya tak ada yang bisa mengkonfirmasi karena ia berpindah waktu tanpa ada saksi dan celakanya untuk kembali sepertinya bukan pekerjaan yang mudah.

LAND OF THE LOST

Pertemuannya dengan Holly Cantrell (Anna Friel) membuat Rick yang berusaha melupakan teori perpindahan waktu mulai kembali bergairah. Ia pun memperbaiki tachyon amplifier yang semula ia buat untuk membuktikan bahwa manusia bisa berpindah dari satu waktu ke waktu yang lain. Rick dan Holly kemudian mencobanya saat mereka berada di Devils Cave bersama seorang tour guide bernama Will Stanton (Danny R. McBride). Saat mencobanya, terjadi gempa bumi yang membawa mereka bertiga berpindah waktu, tanpa tachyon amplifier.

Terpaksa mereka bertiga harus mengalami petualangan menegangkan di dunia yang serba liar yang masih dikuasai oleh binatang purbakala itu. Tanpa senjata dan peralatan, Rick hanya bisa mengandalkan apa yang ia tahu tentang binatang purbakala itu dan menjadikannya senjata untuk bisa bertahan hidup.

LAND OF THE LOST

Masalahnya, untuk bisa kembali ke dunia mereka, hanya ada satu jalan yang harus mereka lalui, portal antar dimensi dan untuk mencari portal ini bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah. Jelas tidak jika mereka juga harus berusaha meloloskan diri dari kejaran makhluk purba yang tak bersahabat itu.

Menilai film LAND OF THE LOST ini bukanlah sebuah pekerjaan mudah. Pertama ide masuk ke dunia lain bersama dinosaurus sepertinya sudah basi. JURASSIC PARK sempat menggegerkan dunia saat membawa ide yang lumayan segar saat itu. Tapi mengulangnya lagi di saat ini sepertinya sudah tak masuk akal. Disebut ikut-ikutan tren sepertinya juga kurang tepat karena tren remake film 1960-an atau 1970-an sudah lewat beberapa tahun lalu. Lalu apa tujuannya?

LAND OF THE LOST

Jika sang sutradara bermaksud membuat sarana untuk bernostalgia, rasanya juga kurang tepat karena penjabaran ide dasar menjadi sebuah alur cerita pun kurang logis. Tiga puluh tahun lalu ide fiksi itu mungkin masih menarik dinikmati orang dewasa, tapi untuk saat ini sepertinya cerita film ini hanya akan menarik buat anak kecil.

Kalau target market-nya anak kecil atau remaja belasan tahun, film ini juga punya beberapa kelemahan. Special effect yang digunakan tak cukup realistis untuk bisa dinikmati generasi muda jaman sekarang. Mereka sudah dijejali banyak film dengan CGI yang benar-benar memukau seperti TRANSFORMERS misalnya. (kpl/roc)

Lihat Galeri Foto:
LAND OF THE LOSTLAND OF THE LOSTLAND OF THE LOST


Pemain: Bradley Cooper, Heather Graham, Ken Jeong, Jeffrey Tambor, Mike Tyson, Rachael Harris, Gillian Vigman, Bryan Callen, Sasha Barrese, Rob Riggle, Mitch Holleman

Oleh: Fatchur Rochim

Dua hari lagi, Doug (Justin Bartha) akan segera menikah. Untuk merayakan hari-hari terakhir Doug sebagai bujangan, Phil (Bradley Cooper), Stu (Ed Helms) dan Alan (Zach Galifianakis) mengajak Doug pergi ke Las Vegas. Tawaran menarik ini jelas tak dilewatkan Doug dan berangkatlah keempat pria ini ke Las Vegas.

THE HANGOVER

Dalam waktu singkat, keempat orang yang memang berencana berpesta itu larut dalam kerasnya alkohol. Dari sinilah semua masalah berawal dan menempatkan mereka dalam posisi yang sulit. Ketika terbangun keesokan harinya, tiga orang teman Doug ini mendapati bahwa Doug tak lagi bersama mereka.

Sebagai gantinya, mereka menemukan seekor macan di dalam kamar mandi dan bayi berusia enam bulan di dalam lemari pakaian. Celakanya, tak satu pun dari ketiga orang ini yang ingat apa yang telah mereka lakukan malam sebelumnya. Kini, mereka bertiga tak punya pilihan selain berusaha menelusuri kembali apa yang mereka lakukan dengan harapan bisa menemukan Doug dan membawanya kembali untuk pernikahan yang telah menantinya.

THE HANGOVER

Sayangnya usaha itu tak akan mudah dilakukan. Selain mereka sama sekali tak ingat apa yang telah mereka lakukan malam sebelumnya, ternyata ada banyak orang yang menghalangi mereka menemukan Doug dengan alasan yang sama sekali tak dimengerti oleh ketiga teman Doug ini. Mampukah ketiga orang ini menemukan teman mereka yang akan menikah dan membawanya pulang tepat pada waktunya?

Kesialan orang lain memang adalah sumber lelucon yang paling efektif, meski di saat yang sama pernyataan itu juga terasa sedikit menyakitkan di kuping. Trik ini sebenarnya sudah bukan barang baru lagi. Malahan bisa dibilang sumber lelucon yang satu ini sama tuanya dengan humor itu sendiri. THE HANGOVER ini juga menggunakan trik yang sama untuk memancing tawa, bedanya, yang satu ini tak terjebak humor slapstick yang biasanya dikonotasikan dengan humor murahan.

THE HANGOVER

Selain penataan alur yang pas, chemistry di antara para pemainnya juga sangat terasa sehingga tiap dialog dan situasi yang ditampilkan jadi benar-benar lucu. Kalaupun ada yang patut disayangkan, justru adalah penampilan Justin Bartha yang singkat namun kurang efektif. Di sisi lain Ken Jeong yang juga tak kebagian terlalu banyak screen time justru malah terasa lebih mengena.(kpl/roc)