Friday, December 12, 2008

Albert Einstein (Alhi fisika)


Albert Einstein (14 Maret 1879–18 April 1955) adalah seorang ilmuwan fisika teoretis yang dipandang luas sebagai ilmuwan terbesar dalam abad ke-20. Dia mengemukakan teori relativitas dan juga banyak menyumbang bagi pengembangan mekanika kuantum, mekanika statistik, dan kosmologi. Dia dianugerahi Penghargaan Nobel dalam Fisika pada tahun 1921 untuk penjelasannya tentang efek fotoelektrik dan "pengabdiannya bagi Fisika Teoretis".

Setelah teori relativitas umum dirumuskan, Einstein menjadi terkenal ke seluruh dunia, pencapaian yang tidak biasa bagi seorang ilmuwan. Di masa tuanya, keterkenalannya melampaui ketenaran semua ilmuwan dalam sejarah, dan dalam budaya populer, kata Einstein dianggap bersinonim dengan kecerdasan atau bahkan jenius. Wajahnya merupakan salah satu yang paling dikenal di seluruh dunia.

Albert Einstein, Tokoh Abad Ini (Person of the Century)

Pada tahun 1999, Einstein dinamakan "Tokoh Abad Ini" oleh majalah Time. Kepopulerannya juga membuat nama "Einstein" digunakan secara luas dalam iklan dan barang dagangan lain, dan akhirnya "Albert Einstein" didaftarkan sebagai merk dagang.

Untuk menghargainya, sebuah satuan dalam fotokimia dinamai einstein, sebuah unsur kimia dinamai einsteinium, dan sebuah asteroid dinamai 2001 Einstein.

Rumus Einstein yang paling terkenal adalah (lihat E=mc²):

Masa muda dan universitas

Einstein dilahirkan di Ulm di Württemberg, Jerman; sekitar 100 km sebelah timur Stuttgart. Bapaknya bernama Hermann Einstein, seorang penjual ranjang bulu yang kemudian menjalani pekerjaan elektrokimia, dan ibunya bernama Pauline. Mereka menikah di Stuttgart-Bad Cannstatt. Keluarga mereka keturunan Yahudi; Albert disekolahkan di sekolah Katholik dan atas keinginan ibunya dia diberi pelajaran biola.

Pada umur lima tahun, ayahnya menunjukkan kompas kantung, dan Einstein menyadari bahwa sesuatu di ruang yang "kosong" ini beraksi terhadap jarum di kompas tersebut; dia kemudian menjelaskan pengalamannya ini sebagai salah satu saat yang paling menggugah dalam hidupnya. Meskipun dia membuat model dan alat mekanik sebagai hobi, dia dianggap sebagai pelajar yang lambat, kemungkinan disebabkan oleh dyslexia, sifat pemalu, atau karena struktur yang jarang dan tidak biasa pada otaknya (diteliti setelah kematiannya). Dia kemudian diberikan penghargaan untuk teori relativitasnya karena kelambatannya ini, dan berkata dengan berpikir dalam tentang ruang dan waktu dari anak-anak lainnya, dia mampu mengembangkan kepandaian yang lebih berkembang. Pendapat lainnya, berkembang belakangan ini, tentang perkembangan mentalnya adalah dia menderita Sindrom Asperger, sebuah kondisi yang berhubungan dengan autisme.

Einstein mulai belajar matematika pada umur dua belas tahun. Ada gosip bahwa dia gagal dalam matematika dalam jenjang pendidikannya, tetapi ini tidak benar; penggantian dalam penilaian membuat bingung pada tahun berikutnya. Dua pamannya membantu mengembangkan ketertarikannya terhadap dunia intelek pada masa akhir kanak-kanaknya dan awal remaja dengan memberikan usulan dan buku tentang sains dan matematika.

Pada tahun 1894, dikarenakan kegagalan bisnis elektrokimia ayahnya, Einstein pindah dari Munich ke Pavia, Italia (dekat kota Milan). Albert tetap tinggal untuk menyelesaikan sekolah, menyelesaikan satu semester sebelum bergabung kembali dengan keluarganya di Pavia.

Kegagalannya dalam seni liberal dalam tes masuk Eidgenössische Technische Hochschule (Institut Teknologi Swiss Federal, di Zurich) pada tahun berikutnya adalah sebuah langkah mundur dia oleh keluarganya dikirim ke Aarau, Swiss, untuk menyelesaikan sekolah menengahnya, di mana dia menerima diploma pada tahun 1896, Einstein beberapa kali mendaftar di Eidgenössische Technische Hochschule. Pada tahun berikutnya dia melepas kewarganegaraan Württemberg, dan menjadi tak bekewarganegaraan.

'Einsteinhaus' di kota Bern di mana Einstein dan Mileva tinggal (di lantai 1) pada masa Annus Mirabilis

Pada 1898, Einstein menemui dan jatuh cinta kepada Mileva Marić, seorang Serbia yang merupakan teman kelasnya (juga teman Nikola Tesla). Pada tahun 1900, dia diberikan gelar untuk mengajar oleh Eidgenössische Technische Hochschule dan diterima sebagai warga negar Swiss pada 1901. Selama masa ini Einstein mendiskusikan ketertarikannya terhadap sains kepada teman-teman dekatnya, termasuk Mileva. Dia dan Mileva memiliki seorang putri bernama Lieserl, lahir dalam bulan Januari tahun 1902. Lieserl Einstein, pada waktu itu, dianggap tidak legal karena orang tuanya tidak menikah.

Kerja dan Gelar Doktor

Pada saat kelulusannya Einstein tidak dapat menemukan pekerjaan mengajar, keterburuannya sebagai orang muda yang mudah membuat marah professornya. Ayah seorang teman kelas menolongnya mendapatkan pekerjaan sebagai asisten teknik pemeriksa di Kantor Paten Swiss pada tahun 1902. Di sana, Einstein menilai aplikasi paten penemu untuk alat yang memerlukan pengetahuan fisika. Dia juga belajar menyadari pentingnya aplikasi dibanding dengan penjelasan yang buruk, dan belajar dari direktur bagaimana "menjelaskan dirinya secara benar". Dia kadang-kadang membetulkan desain mereka dan juga mengevaluasi kepraktisan hasil kerja mereka.

Einstein menikahi Mileva pada 6 Januari 1903. Pernikahan Einstein dengan Mileva, seorang matematikawan. Pada 14 Mei 1904, anak pertama dari pasangan ini, Hans Albert Einstein, lahir. Pada 1904, posisi Einstein di Kantor Paten Swiss menjadi tetap. Dia mendapatkan gelar doktor setelah menyerahkan thesis "Eine neue Bestimmung der Moleküldimensionen" ("On a new determination of molecular dimensions") pada tahun 1905 dari Universitas Zürich.

Di tahun yang sama dia menulis empat artikel yang memberikan dasar fisika modern, tanpa banyak sastra sains yang dapat ia tunjuk atau banyak kolega dalam sains yang dapat ia diskusikan tentang teorinya. Banyak fisikawan setuju bahwa ketiga thesis itu (tentang gerak Brownian), efek fotolistrik, dan relativitas khusus) pantas mendapat Penghargaan Nobel. Tetapi hanya thesis tentang efek fotoelektrik yang mendapatkan penghargaan tersebut. Ini adalah sebuah ironi, bukan hanya karena Einstein lebih tahu banyak tentang relativitas, tetapi juga karena efek fotoelektrik adalah sebuah fenomena kuantum, dan Einstein menjadi terbebas dari jalan dalam teori kuantum. Yang membuat thesisnya luar biasa adalah, dalam setiap kasus, Einstein dengan yakin mengambil ide dari teori fisika ke konsekuensi logis dan berhasil menjelaskan hasil eksperimen yang membingungkan para ilmuwan selama beberapa dekade.

Dia menyerahkan thesis-thesisnya ke "Annalen der Physik". Mereka biasanya ditujukan kepada "Annus Mirabilis Papers" (dari Latin: Tahun luar biasa). Persatuan Fisika Murni dan Aplikasi (IUPAP) merencanakan untuk merayakan 100 tahun publikasi pekerjaan Einstein di tahun 1905 sebagai Tahun Fisika 2005.

Gerakan Brown

Albert Einstein, 1905

Di artikel pertamanya di tahun 1905 bernama "On the Motion—Required by the Molecular Kinetic Theory of Heat—of Small Particles Suspended in a Stationary Liquid", mencakup penelitian tentang gerakan Brownian. Menggunakan teori kinetik cairan yang pada saat itu kontroversial, dia menetapkan bahwa fenomena, yang masih kurang penjelasan yang memuaskan setelah beberapa dekade setelah ia pertama kali diamati, memberikan bukti empirik (atas dasar pengamatan dan eksperimen) kenyataan pada atom. Dan juga meminjamkan keyakinan pada mekanika statistika, yang pada saat itu juga kontroversial.

Sebelum thesis ini, atom dikenal sebagai konsep yang berguna, tetapi fisikawan dan kimiawan berdebat dengan sengit apakah atom itu benar-benar suatu benda yang nyata. Diskusi statistik Einstein tentang kelakuan atom memberikan pelaku eksperimen sebuah cara untuk menghitung atom hanya dengan melihat melalui mikroskop biasa. Wilhelm Ostwald, seorang pemimpin sekolah anti-atom, kemudian memberitahu Arnold Sommerfeld bahwa ia telah berkonversi kepada penjelasan komplit Einstein tentang gerakan Brown.

Albert Einstein, 1951 (saat ulang tahun ke 72, diambil oleh Arthur Sasse, photographer)

Friday, December 5, 2008

Kisah Ashabul kahfi penghuni gua

Ashabul Kahfi penghuni gua

Dalam surat al-Kahfi, Allah SWT menceritakan tiga kisah masa lalu, yaitu kisah Ashabul Kahfi, kisah pertemuan nabi Musa as dan nabi Khidzir as serta kisah Dzulqarnain. Kisah Ashabul Kahfi mendapat perhatian lebih dengan digunakan sebagai nama surat dimana terdapat tiga kisah tersebut. Hal ini tentu bukan kebetulan semata, tapi karena kisah Ashabul Kahfi, seperti juga kisah dalam al-Quran lainnya, bukan merupakan kisah semata, tapi juga terdapat banyak pelajaran (ibrah) didalamnya.

Ashabul Kahfi adalah nama sekelompok orang beriman yang hidup pada masa Raja Diqyanus di Romawi, beberapa ratus tahun sebelum diutusnya nabi Isa as. Mereka hidup ditengah masyarakat penyembah berhala dengan seorang raja yang dzalim. Ketika sang raja mengetahui ada sekelompok orang yang tidak menyembah berhala, maka sang raja marah lalu memanggil mereka dan memerintahkan mereka untuk mengikuti kepercayaan sang raja. Tapi Ashabul Kahfi menolak dan lari, dikejarlah mereka untuk dibunuh. Ketika mereka lari dari kejaran pasukan raja, sampailah mereka di mulut sebuah gua yang kemudian dipakai tempat persembunyian.

Dengan izin Allah mereka kemudian ditidurkan selama 309 tahun di dalam gua,dan dibangkitkan kembali ketika masyarakat dan raja mereka sudah berganti menjadi masyarakat dan raja yang beriman kepada Allah SWT (Ibnu Katsir; Tafsir al-Quran al-'Adzim; jilid:3 ; hal.67-71).

Berikut adalah kisah Ashabul Kahfi (Penghuni Gua) yang ditafsir secara jelas jalan ceritanya.....

Penulis kitab Fadha'ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah (jilid II, halaman 291-300), mengetengahkan suatu riwayat yang dikutip dari kitab Qishashul Anbiya. Riwayat tersebut berkaitan dengan tafsir ayat 10 Surah Al-Kahfi:

إِذْ أَوَى الفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوْا رَبَّنَا ءَاتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

"(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdo'a: "Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)" (QS al-Kahfi:10)

Dengan panjang lebar kitab Qishashul Anbiya mulai dari halaman 566 meriwayatkan sebagai berikut:

Di kala Umar Ibnul Khattab memangku jabatan sebagai Amirul Mukminin, pernah datang kepadanya beberapa orang pendeta Yahudi. Mereka berkata kepada Khalifah: "Hai Khalifah Umar, anda adalah pemegang kekuasaan sesudah Muhammad dan sahabatnya, Abu Bakar. Kami hendak menanyakan beberapa masalah penting kepada anda. Jika anda dapat memberi jawaban kepada kami, barulah kami mau mengerti bahwa Islam merupakan agama yang benar dan Muhammad benar-benar seorang Nabi. Sebaliknya, jika anda tidak dapat memberi jawaban, berarti bahwa agama Islam itu bathil dan Muhammad bukan seorang Nabi."

"Silahkan bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan," sahut Khalifah Umar.

"Jelaskan kepada kami tentang induk kunci (gembok) mengancing langit, apakah itu?" Tanya pendeta-pendeta itu, memulai pertanyaan-pertanyaannya. "Terangkan kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang berjalan bersama penghuninya, apakah itu? Tunjukkan kepada kami tentang suatu makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi ia bukan manusia dan bukan jin! Terangkan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang dapat berjalan di permukaan bumi, tetapi makhluk-makhluk itu tidak dilahirkan dari kandungan ibu atau atau induknya! Beritahukan kepada kami apa yang dikatakan oleh burung puyuh (gemak) di saat ia sedang berkicau! Apakah yang dikatakan oleh ayam jantan di kala ia sedang berkokok! Apakah yang dikatakan oleh kuda di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh katak di waktu ia sedang bersuara? Apakah yang dikatakan oleh keledai di saat ia sedang meringkik? Apakah yang dikatakan oleh burung pipit pada waktu ia sedang berkicau?"

Khalifah Umar menundukkan kepala untuk berfikir sejenak, kemudian berkata: "Bagi Umar, jika ia menjawab 'tidak tahu' atas pertanyaan-pertanyaan yang memang tidak diketahui jawabannya, itu bukan suatu hal yang memalukan!''

Mendengar jawaban Khalifah Umar seperti itu, pendeta-pendeta Yahudi yang bertanya berdiri melonjak-lonjak kegirangan, sambil berkata: "Sekarang kami bersaksi bahwa Muhammad memang bukan seorang Nabi, dan agama Islam itu adalah bathil!"

Salman Al-Farisi yang saat itu hadir, segera bangkit dan berkata kepada pendeta-pendeta Yahudi itu: "Kalian tunggu sebentar!"

Ia cepat-cepat pergi ke rumah Ali bin Abi Thalib. Setelah bertemu, Salman berkata: "Ya Abal Hasan, selamatkanlah agama Islam!"

Imam Ali r.a. bingung, lalu bertanya: "Mengapa?"

Salman kemudian menceritakan apa yang sedang dihadapi oleh Khalifah Umar Ibnul Khattab. Imam Ali segera saja berangkat menuju ke rumah Khalifah Umar, berjalan lenggang memakai burdah (selembar kain penutup punggung atau leher) peninggalan Rasul Allah s.a.w.

Ketika Umar melihat Ali bin Abi Thalib datang, ia bangun dari tempat duduk lalu buru-buru memeluknya, sambil berkata: "Ya Abal Hasan, tiap ada kesulitan besar, engkau selalu kupanggil!"

Setelah berhadap-hadapan dengan para pendeta yang sedang menunggu-nunggu jawaban itu, Ali bin Abi Thalib herkata: "Silakan kalian bertanya tentang apa saja yang kalian inginkan. Rasul Allah s.a.w. sudah mengajarku seribu macam ilmu, dan tiap jenis dari ilmu-ilmu itu mempunyai seribu macam cabang ilmu!"

Pendeta-pendeta Yahudi itu lalu mengulangi pertanyaan-pertanyaan mereka. Sebelum menjawab, Ali bin Abi Thalib berkata: "Aku ingin mengajukan suatu syarat kepada kalian, yaitu jika ternyata aku nanti sudah menjawab pertanyaan-pertanyaan kalian sesuai dengan yang ada di dalam Taurat, kalian supaya bersedia memeluk agama kami dan beriman!"

"Ya baik!" jawab mereka.

"Sekarang tanyakanlah satu demi satu," kata Ali bin Abi Thalib.

Mereka mulai bertanya: "Apakah induk kunci (gembok) yang mengancing pintu-pintu langit?"

"Induk kunci itu," jawab Ali bin Abi Thalib, "ialah syirik kepada Allah. Sebab semua hamba Allah, baik pria maupun wanita, jika ia bersyirik kepada Allah, amalnya tidak akan dapat naik sampai ke hadhirat Allah!"

Para pendeta Yahudi bertanya lagi: "Anak kunci apakah yang dapat membuka pintu-pintu langit?"

Ali bin Abi Thalib menjawab: "Anak kunci itu ialah kesaksian (syahadat) bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!"

Para pendeta Yahudi itu saling pandang di antara mereka, sambil berkata: "Orang itu benar juga!" Mereka bertanya lebih lanjut: "Terangkanlah kepada kami tentang adanya sebuah kuburan yang dapat berjalan bersama penghuninya!"

"Kuburan itu ialah ikan hiu (hut) yang menelan Nabi Yunus putera Matta," jawab Ali bin Abi Thalib. "Nabi Yunus as. dibawa keliling ketujuh samudera!"

Pendeta-pendeta itu meneruskan pertanyaannya lagi: "Jelaskan kepada kami tentang makhluk yang dapat memberi peringatan kepada bangsanya, tetapi makhluk itu bukan manusia dan bukan jin!"

Ali bin Abi Thalib menjawab: "Makhluk itu ialah semut Nabi Sulaiman putera Nabi Dawud alaihimas salam. Semut itu berkata kepada kaumnya: "Hai para semut, masuklah ke dalam tempat kediaman kalian, agar tidak diinjak-injak oleh Sulaiman dan pasukan-nya dalam keadaan mereka tidak sadar!"

Para pendeta Yahudi itu meneruskan pertanyaannya: "Beritahukan kepada kami tentang lima jenis makhluk yang berjalan di atas permukaan bumi, tetapi tidak satu pun di antara makhluk-makhluk itu yang dilahirkan dari kandungan ibunya atau induknya!"

Ali bin Abi Thalib menjawab: "Lima makhluk itu ialah, pertama, Adam. Kedua, Hawa. Ketiga, Unta Nabi Shaleh. Keempat, Domba Nabi Ibrahim. Kelima, Tongkat Nabi Musa (yang menjelma menjadi seekor ular)."

Dua di antara tiga orang pendeta Yahudi itu setelah mendengar jawaban-jawaban serta penjelasan yang diberikan oleh Imam Ali r.a. lalu mengatakan: "Kami bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah!"

Tetapi seorang pendeta lainnya, bangun berdiri sambil berkata kepada Ali bin Abi Thalib: "Hai Ali, hati teman-temanku sudah dihinggapi oleh sesuatu yang sama seperti iman dan keyakinan mengenai benarnya agama Islam. Sekarang masih ada satu hal lagi yang ingin kutanyakan kepada anda."

"Tanyakanlah apa saja yang kau inginkan," sahut Imam Ali.

"Coba terangkan kepadaku tentang sejumlah orang yang pada zaman dahulu sudah mati selama 309 tahun, kemudian dihidupkan kembali oleh Allah. Bagaimana hikayat tentang mereka itu?" Tanya pendeta tadi.

Ali bin Ali Thalib menjawab: "Hai pendeta Yahudi, mereka itu ialah para penghuni gua. Hikayat tentang mereka itu sudah dikisahkan oleh Allah s.w.t. kepada Rasul-Nya. Jika engkau mau, akan kubacakan kisah mereka itu."

Pendeta Yahudi itu menyahut: "Aku sudah banyak mendengar tentang Qur'an kalian itu! Jika engkau memang benar-benar tahu, coba sebutkan nama-nama mereka, nama ayah-ayah mereka, nama kota mereka, nama raja mereka, nama anjing mereka, nama gunung serta gua mereka, dan semua kisah mereka dari awal sampai akhir!"

Ali bin Abi Thalib kemudian membetulkan duduknya, menekuk lutut ke depan perut, lalu ditopangnya dengan burdah yang diikatkan ke pinggang. Lalu ia berkata: "Hai saudara Yahudi, Muhammad Rasul Allah s.a.w. kekasihku telah menceritakan kepadaku, bahwa kisah itu terjadi di negeri Romawi, di sebuah kota bernama Aphesus, atau disebut juga dengan nama Tharsus. Tetapi nama kota itu pada zaman dahulu ialah Aphesus (Ephese). Baru setelah Islam datang, kota itu berubah nama menjadi Tharsus (Tarse, sekarang terletak di dalam wilayah Turki). Penduduk negeri itu dahulunya mempunyai seorang raja yang baik. Setelah raja itu meninggal dunia, berita kematiannya didengar oleh seorang raja Persia bernama Diqyanius. Ia seorang raja kafir yang amat congkak dan dzalim. Ia datang menyerbu negeri itu dengan kekuatan pasukannya, dan akhirnya berhasil menguasai kota Aphesus. Olehnya kota itu dijadikan ibukota kerajaan, lalu dibangunlah sebuah Istana."

Baru sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya itu berdiri, terus bertanya: "Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku bentuk Istana itu, bagaimana serambi dan ruangan-ruangannya!"

Ali bin Abi Thalib menerangkan: "Hai saudara Yahudi, raja itu membangun istana yang sangat megah, terbuat dari batu marmar. Panjangnya satu farsakh (= kl 8 km) dan lebarnya pun satu farsakh. Pilar-pilarnya yang berjumlah seribu buah, semuanya terbuat dari emas, dan lampu-lampu yang berjumlah seribu buah, juga semuanya terbuat dari emas. Lampu-lampu itu bergelantungan pada rantai-rantai yang terbuat dari perak. Tiap malam apinya dinyalakan dengan sejenis minyak yang harum baunya. Di sebelah timur serambi dibuat lubang-lubang cahaya sebanyak seratus buah, demikian pula di sebelah baratnya. Sehingga matahari sejak mulai terbit sampai terbenam selalu dapat menerangi serambi. Raja itu pun membuat sebuah singgasana dari emas. Panjangnya 80 hasta dan lebarnya 40 hasta. Di sebelah kanannya tersedia 80 buah kursi, semuanya terbuat dari emas. Di situlah para hulubalang kerajaan duduk. Di sebelah kirinya juga disediakan 80 buah kursi terbuat dari emas, untuk duduk para pepatih dan penguasa-penguasa tinggi lainnya. Raja duduk di atas singgasana dengan mengenakan mahkota di atas kepala."

Sampai di situ pendeta yang bersangkutan berdiri lagi sambil berkata: "Jika engkau benar-benar tahu, coba terangkan kepadaku dari apakah mahkota itu dibuat?"

"Hai saudara Yahudi," kata Imam Ali menerangkan, "mahkota raja itu terbuat dari kepingan-kepingan emas, berkaki 9 buah, dan tiap kakinya bertaburan mutiara yang memantulkan cahaya laksana bintang-bintang menerangi kegelapan malam. Raja itu juga mempunyai 50 orang pelayan, terdiri dari anak-anak para hulubalang. Semuanya memakai selempang dan baju sutera berwarna merah. Celana mereka juga terbuat dari sutera berwarna hijau. Semuanya dihias dengan gelang-gelang kaki yang sangat indah. Masing-masing diberi tongkat terbuat dari emas. Mereka harus berdiri di belakang raja. Selain mereka, raja juga mengangkat 6 orang, terdiri dari anak-anak para cendekiawan, untuk dijadikan menteri-menteri atau pembantu-pembantunya. Raja tidak mengambil suatu keputusan apa pun tanpa berunding lebih dulu dengan mereka. Enam orang pembantu itu selalu berada di kanan kiri raja, tiga orang berdiri di sebelah kanan dan yang tiga orang lainnya berdiri di sebelah kiri."

Pendeta yang bertanya itu berdiri lagi. Lalu berkata: "Hai Ali, jika yang kau katakan itu benar, coba sebutkan nama enam orang yang menjadi pembantu-pembantu raja itu!"

Menanggapi hal itu, Imam Ali r.a. menjawab: "Kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa tiga orang yang berdiri di sebelah kanan raja, masing-masing bernama Tamlikha, Miksalmina, dan Mikhaslimina. Adapun tiga orang pembantu yang berdiri di sebelah kiri, masing-masing bernama Martelius, Casitius dan Sidemius. Raja selalu berunding dengan mereka mengenai segala urusan.

Tiap hari setelah raja duduk dalam serambi istana dikerumuni oleh semua hulubalang dan para punggawa, masuklah tiga orang pelayan menghadap raja. Seorang diantaranya membawa piala emas penuh berisi wewangian murni. Seorang lagi membawa piala perak penuh berisi air sari bunga. Sedang yang seorangnya lagi membawa seekor burung. Orang yang membawa burung ini kemudian mengeluarkan suara isyarat, lalu burung itu terbang di atas piala yang berisi air sari bunga. Burung itu berkecimpung di dalamnya dan setelah itu ia mengibas-ngibaskan sayap serta bulunya, sampai sari-bunga itu habis dipercikkan ke semua tempat sekitarnya.

Kemudian si pembawa burung tadi mengeluarkan suara isyarat lagi. Burung itu terbang pula. Lalu hinggap di atas piala yang berisi wewangian murni. Sambil berkecimpung di dalamnya, burung itu mengibas-ngibaskan sayap dan bulunya, sampai wewangian murni yang ada dalam piala itu habis dipercikkan ke tempat sekitarnya. Pembawa burung itu memberi isyarat suara lagi. Burung itu lalu terbang dan hinggap di atas mahkota raja, sambil membentangkan kedua sayap yang harum semerbak di atas kepala raja.

Demikianlah raja itu berada di atas singgasana kekuasaan selama tiga puluh tahun. Selama itu ia tidak pernah diserang penyakit apa pun, tidak pernah merasa pusing kepala, sakit perut, demam, berliur, berludah atau pun beringus. Setelah sang raja merasa diri sedemikian kuat dan sehat, ia mulai congkak, durhaka dan dzalim. Ia mengaku-aku diri sebagai "tuhan" dan tidak mau lagi mengakui adanya Allah s.w.t.

Raja itu kemudian memanggil orang-orang terkemuka dari rakyatnya. Barang siapa yang taat dan patuh kepadanya, diberi pakaian dan berbagai macam hadiah lainnya. Tetapi barang siapa yang tidak mau taat atau tidak bersedia mengikuti kemauannya, ia akan segera dibunuh. Oleh sebab itu semua orang terpaksa mengiakan kemauannya. Dalam masa yang cukup lama, semua orang patuh kepada raja itu, sampai ia disembah dan dipuja. Mereka tidak lagi memuja dan menyembah Allah s.w.t.

Pada suatu hari perayaan ulang-tahunnya, raja sedang duduk di atas singgasana mengenakan mahkota di atas kepala, tiba-tiba masuklah seorang hulubalang memberi tahu, bahwa ada balatentara asing masuk menyerbu ke dalam wilayah kerajaannya, dengan maksud hendak melancarkan peperangan terhadap raja. Demikian sedih dan bingungnya raja itu, sampai tanpa disadari mahkota yang sedang dipakainya jatuh dari kepala. Kemudian raja itu sendiri jatuh terpelanting dari atas singgasana. Salah seorang pembantu yang berdiri di sebelah kanan --seorang cerdas yang bernama Tamlikha-- memperhatikan keadaan sang raja dengan sepenuh fikiran. Ia berfikir, lalu berkata di dalam hati: "Kalau Diqyanius itu benar-benar tuhan sebagaimana menurut pengakuannya, tentu ia tidak akan sedih, tidak tidur, tidak buang air kecil atau pun air besar. Itu semua bukanlah sifat-sifat Tuhan."

Enam orang pembantu raja itu tiap hari selalu mengadakan pertemuan di tempat salah seorang dari mereka secara bergiliran. Pada satu hari tibalah giliran Tamlikha menerima kunjungan lima orang temannya. Mereka berkumpul di rumah Tamlikha untuk makan dan minum, tetapi Tamlikha sendiri tidak ikut makan dan minum. Teman-temannya bertanya: "Hai Tamlikha, mengapa engkau tidak mau makan dan tidak mau minum?"

"Teman-teman," sahut Tamlikha, "hatiku sedang dirisaukan oleh sesuatu yang membuatku tidak ingin makan dan tidak ingin minum, juga tidak ingin tidur."

Teman-temannya mengejar: "Apakah yang merisaukan hatimu, hai Tamlikha?"

"Sudah lama aku memikirkan soal langit," ujar Tamlikha menjelaskan. "Aku lalu bertanya pada diriku sendiri: 'siapakah yang mengangkatnya ke atas sebagai atap yang senantiasa aman dan terpelihara, tanpa gantungan dari atas dan tanpa tiang yang menopangnya dari bawah? Siapakah yang menjalankan matahari dan bulan di langit itu? Siapakah yang menghias langit itu dengan bintang-bintang bertaburan?' Kemudian kupikirkan juga bumi ini: 'Siapakah yang membentang dan menghamparkan-nya di cakrawala? Siapakah yang menahannya dengan gunung-gunung raksasa agar tidak goyah, tidak goncang dan tidak miring?' Aku juga lama sekali memikirkan diriku sendiri: 'Siapakah yang mengeluarkan aku sebagai bayi dari perut ibuku? Siapakah yang memelihara hidupku dan memberi makan kepadaku? Semuanya itu pasti ada yang membuat, dan sudah tentu bukan Diqyanius'…"

Teman-teman Tamlikha lalu bertekuk lutut di hadapannya. Dua kaki Tamlikha diciumi sambil berkata: "Hai Tamlikha dalam hati kami sekarang terasa sesuatu seperti yang ada di dalam hatimu. Oleh karena itu, baiklah engkau tunjukkan jalan keluar bagi kita semua!"

"Saudara-saudara," jawab Tamlikha, "baik aku maupun kalian tidak menemukan akal selain harus lari meninggalkan raja yang dzalim itu, pergi kepada Raja pencipta langit dan bumi!"

"Kami setuju dengan pendapatmu," sahut teman-temannya.

Tamlikha lalu berdiri, terus beranjak pergi untuk menjual buah kurma, dan akhirnya berhasil mendapat uang sebanyak 3 dirham. Uang itu kemudian diselipkan dalam kantong baju. Lalu berangkat berkendaraan kuda bersama-sama dengan lima orang temannya.

Setelah berjalan 3 mil jauhnya dari kota, Tamlikha berkata kepada teman-temannya: "Saudara-saudara, kita sekarang sudah terlepas dari raja dunia dan dari kekuasaannya. Sekarang turunlah kalian dari kuda dan marilah kita berjalan kaki. Mudah-mudahan Allah akan memudahkan urusan kita serta memberikan jalan keluar."

Mereka turun dari kudanya masing-masing. Lalu berjalan kaki sejauh 7 farsakh, sampai kaki mereka bengkak berdarah karena tidak biasa berjalan kaki sejauh itu.

Tiba-tiba datanglah seorang penggembala menyambut mereka. Kepada penggembala itu mereka bertanya: "Hai penggembala, apakah engkau mempunyai air minum atau susu?"

"Aku mempunyai semua yang kalian inginkan," sahut penggembala itu. "Tetapi kulihat wajah kalian semuanya seperti kaum bangsawan. Aku menduga kalian itu pasti melarikan diri. Coba beritahukan kepadaku bagaimana cerita perjalanan kalian itu!"

"Ah…, susahnya orang ini," jawab mereka. "Kami sudah memeluk suatu agama, kami tidak boleh berdusta. Apakah kami akan selamat jika kami mengatakan yang sebenarnya?"

"Ya," jawab penggembala itu.

Tamlikha dan teman-temannya lalu menceritakan semua yang terjadi pada diri mereka. Mendengar cerita mereka, penggembala itu segera bertekuk lutut di depan mereka, dan sambil menciumi kaki mereka, ia berkata: "Dalam hatiku sekarang terasa sesuatu seperti yang ada dalam hati kalian. Kalian berhenti sajalah dahulu di sini. Aku hendak mengembalikan kambing-kambing itu kepada pemiliknya. Nanti aku akan segera kembali lagi kepada kalian."

Tamlikha bersama teman-temannya berhenti. Penggembala itu segera pergi untuk mengembalikan kambing-kambing gembalaannya. Tak lama kemudian ia datang lagi berjalan kaki, diikuti oleh seekor anjing miliknya."

Waktu cerita Imam Ali sampai di situ, pendeta Yahudi yang bertanya melonjak berdiri lagi sambil berkata: "Hai Ali, jika engkau benar-benar tahu, coba sebutkan apakah warna anjing itu dan siapakah namanya?"

"Hai saudara Yahudi," kata Ali bin Abi Thalib memberitahukan, "kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa anjing itu berwarna kehitam-hitaman dan bernama Qithmir. Ketika enam orang pelarian itu melihat seekor anjing, masing-masing saling berkata kepada temannya: kita khawatir kalau-kalau anjing itu nantinya akan membongkar rahasia kita! Mereka minta kepada penggembala supaya anjing itu dihalau saja dengan batu.

Anjing itu melihat kepada Tamlikha dan teman-temannya, lalu duduk di atas dua kaki belakang, menggeliat, dan mengucapkan kata-kata dengan lancar dan jelas sekali: "Hai orang-orang, mengapa kalian hendak mengusirku, padahal aku ini bersaksi tiada tuhan selain Allah, tak ada sekutu apa pun bagi-Nya. Biarlah aku menjaga kalian dari musuh, dan dengan berbuat demikian aku mendekatkan diriku kepada Allah s.w.t."

Anjing itu akhirnya dibiarkan saja. Mereka lalu pergi. Penggembala tadi mengajak mereka naik ke sebuah bukit. Lalu bersama mereka mendekati sebuah gua."

Pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu, bangun lagi dari tempat duduknya sambil berkata: "Apakah nama gunung itu dan apakah nama gua itu?!"

Imam Ali menjelaskan: "Gunung itu bernama Naglus dan nama gua itu ialah Washid, atau di sebut juga dengan nama Kheram!"

Ali bin Abi Thalib meneruskan ceritanya: secara tiba-tiba di depan gua itu tumbuh pepohonan berbuah dan memancur mata-air deras sekali. Mereka makan buah-buahan dan minum air yang tersedia di tempat itu. Setelah tiba waktu malam, mereka masuk berlindung di dalam gua. Sedang anjing yang sejak tadi mengikuti mereka, berjaga-jaga ndeprok sambil menjulurkan dua kaki depan untuk menghalang-halangi pintu gua. Kemudian Allah s.w.t. memerintahkan Malaikat maut supaya mencabut nyawa mereka. Kepada masing-masing orang dari mereka Allah s.w.t. mewakilkan dua Malaikat untuk membalik-balik tubuh mereka dari kanan ke kiri. Allah lalu memerintahkan matahari supaya pada saat terbit condong memancarkan sinarnya ke dalam gua dari arah kanan, dan pada saat hampir terbenam supaya sinarnya mulai meninggalkan mereka dari arah kiri.

Suatu ketika waktu raja Diqyanius baru saja selesai berpesta ia bertanya tentang enam orang pembantunya. Ia mendapat jawaban, bahwa mereka itu melarikan diri. Raja Diqyanius sangat gusar. Bersama 80.000 pasukan berkuda ia cepat-cepat berangkat menyelusuri jejak enam orang pembantu yang melarikan diri. Ia naik ke atas bukit, kemudian mendekati gua. Ia melihat enam orang pembantunya yang melarikan diri itu sedang tidur berbaring di dalam gua. Ia tidak ragu-ragu dan memastikan bahwa enam orang itu benar-benar sedang tidur.

Kepada para pengikutnya ia berkata: "Kalau aku hendak menghukum mereka, tidak akan kujatuhkan hukuman yang lebih berat dari perbuatan mereka yang telah menyiksa diri mereka sendiri di dalam gua. Panggillah tukang-tukang batu supaya mereka segera datang ke mari!"

Setelah tukang-tukang batu itu tiba, mereka diperintahkan menutup rapat pintu gua dengan batu-batu dan jish (bahan semacam semen). Selesai dikerjakan, raja berkata kepada para pengikutnya: "Katakanlah kepada mereka yang ada di dalam gua, kalau benar-benar mereka itu tidak berdusta supaya minta tolong kepada Tuhan mereka yang ada di langit, agar mereka dikeluarkan dari tempat itu."

Dalam guha tertutup rapat itu, mereka tinggal selama 309 tahun.

Setelah masa yang amat panjang itu lampau, Allah s.w.t. mengembalikan lagi nyawa mereka. Pada saat matahari sudah mulai memancarkan sinar, mereka merasa seakan-akan baru bangun dari tidurnya masing-masing. Yang seorang berkata kepada yang lainnya: "Malam tadi kami lupa beribadah kepada Allah, mari kita pergi ke mata air!"

Setelah mereka berada di luar gua, tiba-tiba mereka lihat mata air itu sudah mengering kembali dan pepohonan yang ada pun sudah menjadi kering semuanya. Allah s.w.t. membuat mereka mulai merasa lapar. Mereka saling bertanya: "Siapakah di antara kita ini yang sanggup dan bersedia berangkat ke kota membawa uang untuk bisa mendapatkan makanan? Tetapi yang akan pergi ke kota nanti supaya hati-hati benar, jangan sampai membeli makanan yang dimasak dengan lemak-babi."

Tamlikha kemudian berkata: "Hai saudara-saudara, aku sajalah yang berangkat untuk mendapatkan makanan. Tetapi, hai penggembala, berikanlah bajumu kepadaku dan ambillah bajuku ini!"

Setelah Tamlikha memakai baju penggembala, ia berangkat menuju ke kota. Sepanjang jalan ia melewati tempat-tempat yang sama sekali belum pernah dikenalnya, melalui jalan-jalan yang belum pernah diketahui. Setibanya dekat pintu gerbang kota, ia melihat bendera hijau berkibar di angkasa bertuliskan: "Tiada Tuhan selain Allah dan Isa adalah Roh Allah."

Tamlikha berhenti sejenak memandang bendera itu sambil mengusap-usap mata, lalu berkata seorang diri: "Kusangka aku ini masih tidur!" Setelah agak lama memandang dan mengamat-amati bendera, ia meneruskan perjalanan memasuki kota. Dilihatnya banyak orang sedang membaca Injil. Ia berpapasan dengan orang-orang yang belum pernah dikenal. Setibanya di sebuah pasar ia bertanya kepada seorang penjaja roti: "Hai tukang roti, apakah nama kota kalian ini?"

"Aphesus," sahut penjual roti itu.

"Siapakah nama raja kalian?" tanya Tamlikha lagi. "Abdurrahman," jawab penjual roti.

"Kalau yang kau katakan itu benar," kata Tamlikha, "urusanku ini sungguh aneh sekali! Ambillah uang ini dan berilah makanan kepadaku!"

Melihat uang itu, penjual roti keheran-heranan. Karena uang yang dibawa Tamlikha itu uang zaman lampau, yang ukurannya lebih besar dan lebih berat.

Pendeta Yahudi yang bertanya itu kemudian berdiri lagi, lalu berkata kepada Ali bin Abi Thalib: "Hai Ali, kalau benar-benar engkau mengetahui, coba terangkan kepadaku berapa nilai uang lama itu dibanding dengan uang baru!"

Imam Ali menerangkan: "Kekasihku Muhammad Rasul Allah s.a.w. menceritakan kepadaku, bahwa uang yang dibawa oleh Tamlikha dibanding dengan uang baru, ialah tiap dirham lama sama dengan sepuluh dan dua pertiga dirham baru!"

Imam Ali kemudian melanjutkan ceritanya: Penjual Roti lalu berkata kepada Tamlikha: "Aduhai, alangkah beruntungnya aku! Rupanya engkau baru menemukan harta karun! Berikan sisa uang itu kepadaku! Kalau tidak, engkau akan ku hadapkan kepada raja!"

"Aku tidak menemukan harta karun," sangkal Tamlikha. "Uang ini ku dapat tiga hari yang lalu dari hasil penjualan buah kurma seharga tiga dirham! Aku kemudian meninggalkan kota karena orang-orang semuanya menyembah Diqyanius!"

Penjual roti itu marah. Lalu berkata: "Apakah setelah engkau menemukan harta karun masih juga tidak rela menyerahkan sisa uangmu itu kepadaku? Lagi pula engkau telah menyebut-nyebut seorang raja durhaka yang mengaku diri sebagai tuhan, padahal raja itu sudah mati lebih dari 300 tahun yang silam! Apakah dengan begitu engkau hendak memperolok-olok aku?"

Tamlikha lalu ditangkap. Kemudian dibawa pergi menghadap raja. Raja yang baru ini seorang yang dapat berfikir dan bersikap adil. Raja bertanya kepada orang-orang yang membawa Tamlikha: "Bagaimana cerita tentang orang ini?"

"Dia menemukan harta karun," jawab orang-orang yang membawanya.

Kepada Tamlikha, raja berkata: "Engkau tak perlu takut! Nabi Isa a.s. memerintahkan supaya kami hanya memungut seperlima saja dari harta karun itu. Serahkanlah yang seperlima itu kepadaku, dan selanjutnya engkau akan selamat."

Tamlikha menjawab: "Baginda, aku sama sekali tidak menemukan harta karun! Aku adalah penduduk kota ini!"

Raja bertanya sambil keheran-heranan: "Engkau penduduk kota ini?"

"Ya. Benar," sahut Tamlikha.

"Adakah orang yang kau kenal?" tanya raja lagi.

"Ya, ada," jawab Tamlikha.

"Coba sebutkan siapa namanya," perintah raja.

Tamlikha menyebut nama-nama kurang lebih 1000 orang, tetapi tak ada satu nama pun yang dikenal oleh raja atau oleh orang lain yang hadir mendengarkan. Mereka berkata: "Ah…, semua itu bukan nama orang-orang yang hidup di zaman kita sekarang. Tetapi, apakah engkau mempunyai rumah di kota ini?"

"Ya, tuanku," jawab Tamlikha. "Utuslah seorang menyertai aku!"

Raja kemudian memerintahkan beberapa orang menyertai Tamlikha pergi. Oleh Tamlikha mereka diajak menuju ke sebuah rumah yang paling tinggi di kota itu. Setibanya di sana, Tamlikha berkata kepada orang yang mengantarkan: "Inilah rumahku!"

Pintu rumah itu lalu diketuk. Keluarlah seorang lelaki yang sudah sangat lanjut usia. Sepasang alis di bawah keningnya sudah sedemikian putih dan mengkerut hampir menutupi mata karena sudah terlampau tua. Ia terperanjat ketakutan, lalu bertanya kepada orang-orang yang datang: "Kalian ada perlu apa?"

Utusan raja yang menyertai Tamlikha menyahut: "Orang muda ini mengaku rumah ini adalah rumahnya!"

Orang tua itu marah, memandang kepada Tamlikha. Sambil mengamat-amati ia bertanya: "Siapa namamu?"

"Aku Tamlikha anak Filistin!"

Orang tua itu lalu berkata: "Coba ulangi lagi!"

Tamlikha menyebut lagi namanya. Tiba-tiba orang tua itu bertekuk lutut di depan kaki Tamlikha sambil berucap: "Ini adalah datukku! Demi Allah, ia salah seorang di antara orang-orang yang melarikan diri dari Diqyanius, raja durhaka." Kemudian diteruskannya dengan suara haru: "Ia lari berlindung kepada Yang Maha Perkasa, Pencipta langit dan bumi. Nabi kita, Isa as., dahulu telah memberitahukan kisah mereka kepada kita dan mengatakan bahwa mereka itu akan hidup kembali!"

Peristiwa yang terjadi di rumah orang tua itu kemudian di laporkan kepada raja. Dengan menunggang kuda, raja segera datang menuju ke tempat Tamlikha yang sedang berada di rumah orang tua tadi. Setelah melihat Tamlikha, raja segera turun dari kuda. Oleh raja Tamlikha diangkat ke atas pundak, sedangkan orang banyak beramai-ramai menciumi tangan dan kaki Tamlikha sambil bertanya-tanya: "Hai Tamlikha, bagaimana keadaan teman-temanmu?"

Kepada mereka Tamlikha memberi tahu, bahwa semua temannya masih berada di dalam gua.

"Pada masa itu kota Aphesus diurus oleh dua orang bangsawan istana. Seorang beragama Islam dan seorang lainnya lagi beragama Nasrani. Dua orang bangsawan itu bersama pengikutnya masing-masing pergi membawa Tamlikha menuju ke gua," demikian Imam Ali melanjutkan ceritanya.

Teman-teman Tamlikha semuanya masih berada di dalam gua itu. Setibanya dekat gua, Tamlikha berkata kepada dua orang bangsawan dan para pengikut mereka: "Aku khawatir kalau sampai teman-temanku mendengar suara tapak kuda, atau gemerincingnya senjata. Mereka pasti menduga Diqyanius datang dan mereka bakal mati semua. Oleh karena itu kalian berhenti saja di sini. Biarlah aku sendiri yang akan menemui dan memberitahu mereka!"

Semua berhenti menunggu dan Tamlikha masuk seorang diri ke dalam gua. Melihat Tamlikha datang, teman-temannya berdiri kegirangan, dan Tamlikha dipeluknya kuat-kuat. Kepada Tamlikha mereka berkata: "Puji dan syukur bagi Allah yang telah menyelamatkan dirimu dari Diqyanius!"

Tamlikha menukas: "Ada urusan apa dengan Diqyanius? Tahukah kalian, sudah berapa lamakah kalian tinggal di sini?"

"Kami tinggal sehari atau beberapa hari saja," jawab mereka.

"Tidak!" sangkal Tamlikha. "Kalian sudah tinggal di sini selama 309 tahun! Diqyanius sudah lama meninggal dunia! Generasi demi generasi sudah lewat silih berganti, dan penduduk kota itu sudah beriman kepada Allah yang Maha Agung! Mereka sekarang datang untuk bertemu dengan kalian!"

Teman-teman Tamlikha menyahut: "Hai Tamlikha, apakah engkau hendak menjadikan kami ini orang-orang yang menggemparkan seluruh jagad?"

"Lantas apa yang kalian inginkan?" Tamlikha balik bertanya.

"Angkatlah tanganmu ke atas dan kami pun akan berbuat seperti itu juga," jawab mereka.

Mereka bertujuh semua mengangkat tangan ke atas, kemudian berdoa: "Ya Allah, dengan kebenaran yang telah Kau perlihatkan kepada kami tentang keanehan-keanehan yang kami alami sekarang ini, cabutlah kembali nyawa kami tanpa sepengetahuan orang lain!"

Allah s.w.t. mengabulkan permohonan mereka. Lalu memerintahkan Malaikat maut mencabut kembali nyawa mereka. Kemudian Allah s.w.t. melenyapkan pintu gua tanpa bekas. Dua orang bangsawan yang menunggu-nunggu segera maju mendekati gua, berputar-putar selama tujuh hari untuk mencari-cari pintunya, tetapi tanpa hasil. Tak dapat ditemukan lubang atau jalan masuk lainnya ke dalam gua. Pada saat itu dua orang bangsawan tadi menjadi yakin tentang betapa hebatnya kekuasaan Allah s.w.t. Dua orang bangsawan itu memandang semua peristiwa yang dialami oleh para penghuni gua, sebagai peringatan yang diperlihatkan Allah kepada mereka.

Bangsawan yang beragama Islam lalu berkata: "Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah tempat ibadah di pintu gua itu."

Sedang bangsawan yang beragama Nasrani berkata pula: "Mereka mati dalam keadaan memeluk agamaku! Akan ku dirikan sebuah biara di pintu gua itu."

Dua orang bangsawan itu bertengkar, dan setelah melalui pertikaian senjata, akhirnya bangsawan Nasrani terkalahkan oleh bangsawan yang beragama Islam. Dengan terjadinya peristiwa tersebut, maka Allah berfirman:

وَكَذَلِكَ أَعْثَرْنَا عَلَيْهِمْ لِيَعْلَمُوا أَنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَأَنَّ السَّاعَةَ لَا رَيْبَ فِيهَا إِذْ يَتَنَازَعُونَ بَيْنَهُمْ أَمْرَهُمْ فَقَالُوا ابْنُوا عَلَيْهِم بُنْيَانًا رَّبُّهُمْ أَعْلَمُ بِهِمْ قَالَ الَّذِينَ غَلَبُوا عَلَى أَمْرِهِمْ لَنَتَّخِذَنَّ عَلَيْهِم مَّسْجِدًا

Dan begitulah Kami menyerempakkan mereka, supaya mereka mengetahui bahawa janji Allah adalah benar, dan bahawa Saat itu tidak ada keraguan padanya. Apabila mereka berbalahan antara mereka dalam urusan mereka, maka mereka berkata, "Binalah di atas mereka satu bangunan; Pemelihara mereka sangat mengetahui mengenai mereka." Berkata orang-orang yang menguasai atas urusan mereka, "Kami akan membina di atas mereka sebuah masjid."

Sampai di situ Imam Ali bin Abi Thalib berhenti menceritakan kisah para penghuni gua. Kemudian berkata kepada pendeta Yahudi yang menanyakan kisah itu: "Itulah, hai Yahudi, apa yang telah terjadi dalam kisah mereka. Demi Allah, sekarang aku hendak bertanya kepadamu, apakah semua yang ku ceritakan itu sesuai dengan apa yang tercantum dalam Taurat kalian?"

Pendeta Yahudi itu menjawab: "Ya Abal Hasan, engkau tidak menambah dan tidak mengurangi, walau satu huruf pun! Sekarang engkau jangan menyebut diriku sebagai orang Yahudi, sebab aku telah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba Allah serta Rasul-Nya. Aku pun bersaksi juga, bahwa engkau orang yang paling berilmu di kalangan ummat ini!"

  1. Demikianlah hikayat tentang para penghuni gua (Ashhabul Kahfi), kutipan dari kitab Qishasul Anbiya yang tercantum dalam kitab Fadha 'ilul Khamsah Minas Shihahis Sittah, tulisan As Sayyid Murtadha Al Huseiniy Al Faruz Aabaad, dalam menunjukkan banyaknya ilmu pengetahuan yang diperoleh Imam Ali bin Abi Thalib dari Rasul Allah s.a.w.

Monday, December 1, 2008

Sepeda Unik










Friday, November 28, 2008

Keira Knightley,Wanita Terseksi di Dunia

Kapanlagi.com - Aktris Inggris Keira Knightley dipilih sebagai wanita terseksi di dunia berdasarkan jajak pendapat sebuah majalah, Kamis, dengan menyisihkan model Keeley Hazel dan bintang Hollywood, Scarlett Johansson, ke tempat kedua dan ketiga.


Poll tersebut, yang menurut majalah FHM dilakukan terhadap dua juta responden, menempatkan model lokal dan presenter televisi Kelly Brook pada urutan kelima, merosot dari urutan pertama pada tahun lalu, sedangkan Angelina Jolie, yang sedang menantikan kelahiran bayinya pada pertengahan Mei, berada di posisi keempat.

Bintang pop seksi Beyonce Knowles bertengger di ururan ketujuh dam petenis jelita Rusia, Maria Sharapova, menempati urutan ke-56.

FHM mengemukakan jajak pendapat umum itu merupakan satu-satunya poll yang melibatkan sepenuhnya publik Inggris, demikian laporan Reuters dari London. (*/erl)

Thursday, November 27, 2008

Barang bersejarah peninggalan Rasullullah


Bila kita berjauh jarak dengan sang terkasih Muhammad Rasulullah yang berbentang waktu 1.400 tahun… bila kita belum pernah tahu wajah sucinya sementara kita menyebut namanya setiap hari,.. kita menghantarkan salam kepadanya setiap hari melalui shalat, shalawat-shalawat dan do’a-do’a yang kita lantunkan… tidakkah foto-foto berikut ini mengobati kerinduan kita yang sangat dalam kepada Sang Tercinta Nabi Agung, Kekasih Allah dan Sang pribadi mulia panutan umat manusia?? Titik air mataku begitu melihat langsung keranda beliau dalam foto ini, tak terhalang apapun. Allahu Akbar … serasa dekaaat denganmu ya Rasulullah … Andai aku bisa melihat wajahmu, aku pasti pingsan, tak kuat dengan kenikmatan memandang wajahmu… Allahumma shalli ‘ala Muhammad ….

a

picture1.jpg

KUNCI KA’BAH ZAMAN NABI MUHAMMAD SAW

a

picture2.jpg

JEJAK KAKI SANG NABI AGUNG

a

picture3.jpg

BEBERAPA RAMBUT DARI JANGGUT NABI MUHAMMAD SAW

a

Wadah Kotak Gigi Rasulullah SAW

a

picture4.jpg

PEDANG MILIK NABI MUHAMMAD SAW

a

Pedang Nabi SAW

a

Busur Panah Nabi SAW

a

Bendera Rasululullah SAW

a

Topi Besi Rasuluallah SAW

a

Baju dan barang-barang Rasulullah SAW

a

Surat Rasulullah SAW pada Raja Heraclius

a

Makan Siti Aminah, Ibunda Rasululllah SAW

a

picture6.jpg

PINTU EMAS MAKAM NABI MUHAMMAD SAW

a

picture7.jpg

Inilah makan Rasulullah SAW dari dalam. Di dalam inikah Sang Nabi Agung nan Mulia berbaring? Allahu Akbar … Makam raja saja, makan Sunan Sunan Gunung Djati saja, kita tidak bebas masuk dan melihatnya. Ini makam Rasulullah sang kekasih panutan umat manusia, Allaahu Akbar … Bila keranda ini disingkap dan kita bisa melihat tubuhnya yang suci berbaring, terbayangkah bagaimana kita menatap wajahnya?

Wednesday, November 26, 2008

Kamera Antik








JIN PENUNGGU TELAGA WARNA

Undangan berwarna biru dengan tulisan warna emas yang tercetak rapi, tergeletak diatas meja makan. Hal tersebut mendorongku untuk segera membuka dan membacanya walaupun perutku sudah berbunyi keroncongan minta diisi.

Isteriku berkata " Mas, Itu undangan dari Jakarta untuk hari Sabtu depan. Itu lho, Bu Kuncoro yang di Cikini mantu, kita datang ya !, kan salah satu famili dekat ". Sambil membaca kartu undangan itu aku manggut-manggut tidak menyahuti kata-kata isteriku.

Isteriku membujuk lagi dengan berkata : " Maas, kan sudah beberapa bulan ini kita tidak ke-Jakarta, aku sudah kangen dengan keluargaku, pasti semua datang ke-pestanya ", disambung dengan rayuannya lagi " Sekali-sekali pergi menghilangkan stress khan boleh. Jakarta dekat ini, ya Mas, ya.... ". Setelah menyelesaikan membaca undangan itu Aku kemudian menatap Isteriku dan mengangguk-kan kepala tanda setuju sambil tanganku meraih sendok dan segera menyantap makan malam.

Isteriku melonjak kegirangan dan berteriak kepada putri kami yang tiga bulan lagi berumur dua tahun " Nanda, nanti kita jalan-jalan ke Jakarta sama Papa".

Tak terasa hari Sabtu-pun tiba dan dan putriku Nanda sudah tiga kali menanyakan kapan akan berangkat jalan-jalan seperti yang dijanjikan oleh Ibunya. Setelah menaikkan semua tas dan perlengkapan keatas mobil, kamipun berangkat dari Bandung menuju Jakarta.

AWALNYA.....

Sejak kawin tiga tahun yang lalu, kami pindah dari Jakarta dan menetap di Bandung karena tugas dari kantor-ku. Kami tinggal dirumah kontrakan yang tidak terlampau besar dan beruntung mendapat fasilitas kendaraan berupa mobil dari kantor sehingga kadang-kadang kami bisa pergi bertamasya ketempat-tempat rekreasi dengan menggunakan mobil kantor, seperti saat ini.

Udara pagi yang sejuk terhisap memasuki paru-paru menimbulkan suasana yang tenang dan menggembirakan, pemandangan dikiri-kanan jalan sangat indah, apalagi lepas dari Cianjur mendekati Puncak. Putri-ku Nanda tak henti-hentinya bertanya ini-itu mengenai hal-hal baru yang dilihatnya dan rasa senangnya karena diajak naik mobil pergi bertamasya.

TELAGA WARNA PUNCAK

Setibanya di Puncak, Isteriku menyarankan dan berusaha membujuk-ku untuk berhenti sebentar beristirahat di Telaga Warna Puncak menikmati udara sejuk nan menyegarkan. ‘ Kalau saja aku bisa mengetahui peristiwa menggetarkan hati yang kelak akan terjadi, pasti akan kutolak mentah-mentah permintaan Isteriku itu......... '

Aku meminggirkan mobil dan parkir di-kawasan Telaga Warna, Isteriku menarik-narik tanganku sambil membimbing Nanda kearah tepi telaga dan duduk dengan santai sambil tak henti-hentinya mengoceh. Nanda dan aku mendengarkan dengan asyik.

Ia menceritakan berbagai hal menarik yang akan dilakukannya di Jakarta dan keinginan-keinginannya setibanya nanti di-Jakarta, juga pesta perkawinan yang pasti akan sangat meriah yang akan kami hadiri dan belanja oleh-oleh kesukaannya saat akan pulang ke Bandung. Tak terasa waktu berlalu dengan cepat, setelah puas menikmati keindahan disekitar telaga, kemudian kami-pun meninggalkan Telaga Warna dan melanjutkan perjalanan ke Jakarta.

Saat itu, jalan tol Jakarta-Bogor-Ciawi sedang dalam proses pembuatan dan belum selesai, sehingga untuk ke-Jakarta masih harus melalui jalan Bogor lama.

Setibanya di-Bogor, Isteriku meminta mampir di-toko roti terbesar di Bogor saat itu untuk membeli roti dan penganan pengisi perut selama perjalanan. Nanda kecapean dan terlihat tidur dengan lelapnya di Jok belakang, dan aku malas untuk turun, jadi Isteri-ku turun sendirian dan pergi masuk ke-toko roti tersebut untuk berbelanja.

Aku menunggu dimobil bersama Nanda yang tertidur pulas.......

ISTERIKU DENGAN PARFUM BAU KEMBOJA

Sekejap kemudian terlihat sesosok wanita yang persis berwujud Isteriku mengenakan pakaian seperti yang dipakai Isteriku sambil membawa bungkusan besar berisi roti dan makanan lainnya datang mendekat kemobil. Tentu saja segera kubukakan pintu mobil karena kusangka Isteriku. Saat ia masuk kemobil sekilas tercium bau bunga kamboja bercampur menyan yang membuat bulu kudukku berdiri.

Akan tetapi karena melihat wajah Isteriku yang berseri-seri dan berkata bahwa ia telah membelikan beberapa roti kesukaanku maka aku segera melupakan hal aneh yang muncul bersamaan dengan kedatangan Isteriku ini.

Mobil ku-stater dan kemudian meluncur pergi dari toko roti di-Bogor guna melanjutkan perjalanan ke-Jakarta. Sayangnya mataku kurang jeli, sehingga tidak melihat bahwa beberapa detik sebelum mobil keluar dari area toko roti, Isteriku yang asli muncul dipintu toko dengan membawa bungkusan besar berisi roti dan melihat mobilku meluncur pergi dengan membawa wanita lain.

ISTERI ASLIKU MARAH BESAR

Isteriku marah besar dan mengira bahwa aku telah pergi (lari) meninggalkannya dengan membawa wanita lain, seketika itu juga dibantingnya bungkusan hasil belanjaanya dan dengan air mata bercucuran kemudian lari pulang ke-Bandung. Hatinya dipenuhi dengan emosi, cemburu, marah, sedih dan kesal bercampur jadi satu. Mulutnya membisikkan kata-kata ancaman yang lirih " Awas kalau pulang nanti ", berkali-kali tanpa henti sepanjang perjalanan kembali ke-Bandung.

Fikirannya yang dipenuhi rasa marah dan cemburu, terus bertanya-tanya, siapakan wanita yang menjadi simpanan suaminya itu dan telah pergi bersama suaminya ?. Mengapa dirinya ditinggalkan begitu saja tanpa menengok sedikitpun, sungguh tak berperasaan. Bagaimana dengan anaknya Nanda, apakah dia sedang menangis menanyakan ibunya atau sedang apa ?, jahat sekali suaminya itu, akh kalau saja tahu hati suaminya seculas itu, tak akan mau dia diperistri bila hanya untuk disakiti hatinya. Rasa benci menyeruak di-hatinya yang sedih dan luka bagai tertusuk sembilu.

Sesampainya dirumah langsung ia membanting dirinya keatas tempat tidur dan menangis tersedu-sedu sambil tak henti-hentinya mengeluarkan ancaman........

ISTERIKU BERMANJA-MANJA KEPADAKU

Sementara itu tidak sedikitpun terlintas difikiranku mengenai keadaan Isteriku itu dirumah, malah aku terlibat dengan pembicaraan yang romantis dengan wanita yang kukira Isteriku ini. Selama dalam perjalanan ini aku sangat menikmatinya, karena tidak tahu kenapa istriku bertambah-tambah genit dan manja-nya terhadapku, hingga beberapa kali pipiku diciumnya mesra yang membuat hatiku semakin berbunga-bunga.

Isteriku ini kemudian merapatkan duduknya dan merebahkan kepalanya kepundakku dan berkata " Maas, kalau bisa aku ingin peristiwa ini jangan cepat berlalu ". Aku berfikir sambil membathin, lho ini khan masih awal dan masih banyak lagi waktu sesampaimya di Jakarta nanti. Sewaktu rambutnya menyentuh pipiku, saat itu kembali sekilas tercium bau wangi bunga kamboja bercampur menyan, sehingga bulu kudukku berdiri lagi. Ihh....... Dalam hati aku berjanji membelikan shampo luar negeri untuk isteriku, karena bau wangi shampo yang ia gunakan sekarang ini menimbulkan rasa takut dihatiku.

SETIBA DI JAKARTA

Akhirnya setelah tiba di Jakarta, Aku langsung menuju ke hotel yang terdekat dari Cikini, dan memesan kamar untuk satu malam, karena ingin beristirahat sejenak menjelang resepsi malam nanti. Nanda sangat senang dan bernyanyi-nyanyi kecil dengan lucunya sambil menyentuh barang-barang hiasan yang ada dikamar hotel. Lagaknya bagai kupu-kupu yang terbang mengitari bunga-bunga yang sedang mekar mewangi.

Sore hari, setelah memandikan Nanda, Isteriku mengajak mandi bersama, ini sebetulnya diluar dari kebiasaannya, tapi tentu saja aku mau, permintaan seperti ini jelas nggak akan kutolak. Didalam kamar mandi, isteriku mesra berbisik meminta hubungan intim, awalnya aku kurang setuju, tapi dengan sangat ahli ia membangkitkan hasrat kelaki-lakianku......

Koper dibuka dan pakaian-pakaian didalamnya dicoba dan dipatut-patutkan ke tubuhnya sambil bergaya didepan kaca, hingga akhirnya ia memutuskan menggunakan baju warna hijau yang memang serasi dengan warna kulitnya yang putih.

ACARA RESEPSI BERLANGSUNG MERIAH

Acara resepsi pernikahan putra Bu Kuncoro sangat meriah dan memang banyak keluarga datang, tentu saja bagaikan reuni keluarga besar, kami saling bertanya dan bercerita situasi terakhir dalam keluarga dengan gembira. Beberapa kali Nanda datang kepadaku minta dibersihkan pipinya yang berwarna merah bekas lipstik karena dicium gemas oleh tante-tantenya. Saat foto bersama, mulanya Isteriku menolak keras, tapi setelah didesak-desak akhirnya mau juga. Beberapa famili mengajak kami bermalam dirumah mereka tapi dengan halus kutolak karena sebelumnya sudah memesan kamar dihotel.

Akhirnya acara resepsipun usai sudah dan satu demi satu para tamu pamit pulang, demikian juga kami. Dalam perjalanan kembali ke hotel terlihat sekali isteriku sangat bahagia karena celotehnya yang sangat bersemangat mengenai suasana resepsi tadi, dimana aku hanya mendengar dan meng-iyakan ucapan-ucapannya saja.

BERGAIRAH DAN MENGAJAK BERCINTA

Nanda terlihat kelelahan dan segera tertidur pulas begitu kepalanya menyentuh bantal tempat tidurnya, melihat putrinya telah tertidur. Isteriku melepaskan pakaian pestanya satu demi satu sambil menggerakkan tubuhnya dengan erotis, berusaha memancing gairahku, dan setelah terlepas semuanya langsung menerkam diriku dan mengajak bercinta.

Malam itu entah beberapa kali hubungan intim telah kami lakukan hingga rasanya tulang-tulangku hampir terlepas karena kelelahan melayani hasratnya yang tak pernah padam, sehingga saat matahari telah tinggi kami masih tertidur kelelahan.

Lewat tengah hari baru kami berangkat pulang ke Bandung. Perjalanan pulang agak lambat karena kami banyak berhenti untuk belanja oleh-oleh, lagi pula aku menjalankan kendaraan perlahan karena masih agak mengantuk. Nanda sepanjang jalan kembali tertidur pulas, mungkin karena masih kelelahan, sekilas terlihat senyum manis dibibirnya.

KEMBALI KE TELAGA WARNA

Menjelang magrib saat mobil mendekati Puncak, Isteriku mendesak untuk berhenti sebentar agar kembali beristirahat di Telaga Warna, aku menolak karena perjalanan masih jauh lagipula sudah menjelang Magrib. Tapi karena ia terus bersikeras dengan bujukan dan alasan yang kadang menurutku sulit diterima akal, maka akhirnya aku mengalah dan memarkir mobil di kawasan Telaga Warna. Saat itu suasana masih agak terang.

Nanda, walaupun sudah terbangun tapi masih menggeliat malas untuk berjalan, sehingga kubopong turun mengikuti isteriku ke tepi telaga, setelah duduk suasana menjadi santai, Isteriku berkata dengan serius kepadaku, bahwa perjalanan ini tak akan pernah dilupakannya dan Ia mencium pipiku berkali-kali guna lebih menguatkan kata-katanya. Kelakuannya ini ku-rasakan agak aneh seakan dia tidak akan pernah bertemu denganku lagi........

MENGAPA "DIA" TERJUN KE TELAGA ?

Saat terdengar Adzan Magrib mendayu-dayu, tiba-tiba dengan tak tersangka-sangka Isteriku menerjunkan dirinya kedalam Telaga Warna, tentu saja aku terkejut setengah mati apalagi mendengar putriku berteriak histeris dan kemudian menangis meraung-raung memanggil-manggil ibunya, " Mamaaaa......maama..."

Setelah menunggu beberapa saat dan tidak muncul juga dari dalam telaga, maka akupun berteriak-teriak memanggil namanya dan langsung terjun kedalam air telaga untuk mencari Isteriku, beberapa orang berkumpul melihat kelakuanku yang aneh, kucoba menjelaskan peristiwa yang terjadi dengan suara terbata-bata dan tubuh gemetar kebingungan, beberapa orang kemudian tergerak untuk ikut terjun berusaha mencari isteriku didasar telaga. Beberapa wanita yang ada berusaha membujuk mendiamkan putriku yang terus menangis.

Setelah mengobak seluruh telaga selama lebih dari dua jam dibantu oleh banyak orang tanpa hasil. Dengan baju basah kuyup dan tubuh menggigil kedinginan serta perasaan yang tak menentu karena sangat sedih, maka akupun memutuskan untuk kembali ke Bandung dan berniat untuk melakukan pencarian lanjutan esok pagi. Apalagi Nanda terus menangis memanggil-manggil ibunya yang telah terjun kedalam telaga dan tidak berhasil ditemukan. Saat itu fikiranku terus bertanya-tanya " Mengapa Istriku tega sampai berbuat begitu ? Apa salahku ?.... setelah begitu lama tidak muncul dari dalam air apakah mungkin ia telah mati !!.......

PULANG KERUMAH DI BANDUNG

Aku menjalankan mobil pulang ke Bandung sambil ngebut agar cepat sampai di rumah, dan berniat untuk mengabari saudara-saudaraku perihal Istriku, agar mereka esok membantu dalam upaya pencarian. Dengan perasaan sangat sedih dan terpukul atas musibah ini, akupun masuk kedalam rumah dan..........

Mendengar suara mobil memasuki rumahnya, Isteriku yang masih belum tidur, bangun dan meloncat mengintip dari jendela kamar, mengetahui bahwa suaminya pulang, timbullah lagi rasa marah atas perbuatan suaminya yang disangkanya pergi meninggalkan dia sendirian ditoko roti di-Bogor bersama wanita yang tidak dikenalnya.

Diambilnya sepatu hak tingginya dan berlari ke pintu depan........

Betapa terkejutnya aku ketika membuka pintu depan, sepasang sepatu hak tinggi mendarat telak dikepalaku, dan pelakunya tak lain adalah ternyata isteriku.........

TERNYATA ISTERIKU MASIH HIDUP

Wajahku pucat pasi kaget setengah mati, bahkan aku ketakutan bagai melihat hantu, sehingga tak terasa sakitnya kepalaku yang benjol-memar karena terlempar sepatu. Bagaimana mungkin isteriku yang hilang tenggelam di Telaga Warna ternyata malah sekarang muncul dihadapanku dengan wajah marah menakutkan dan suara menggelegar keras, mengumpat dan memaki. Dengan terpana-bengong dan perasaan tak karuan, aku cuma bisa berdiri mematung didepan pintu. Istriku masih terus melemparkan segala macam benda kearahku sambil memaki-maki. Nalarku masih kacau belum jalan, aku tak berusaha menghentikannya, masih bingung.

" Ka..kaau ...ternyata masih hidup, kukira sudah mati tenggelam ", kataku ketakutan dan dengan suara terbata-bata. Setelah mendengar kata-kataku, dan melihat keadaan diriku yang kacau, Isteriku malah bingung, apalagi kemudian Nanda menghambur masuk dan memeluk ibunya sambil berteriak keras : " Mama... jangan lompat lagi ke danau, Nanda takuuut ". Terkejut Isteriku sehingga terlupakan kemarahannya, dan matanya melotot menatap kearahku minta penjelasan, sambil mendekap Nanda yang menangis sesenggukan dipelukannya.

Aku sendiri masih belum bisa mencerna dengan baik atas situasi yang tak terduga-duga ini dan terpaku keheranan. Melihat aku tidak memberikan jawaban, timbullah lagi marahnya dan berteriak keras mengejutkanku " Mengapa kau tinggalkan aku sendirian di Bogor, dan siapa wanita sialan itu ! ". Fikiranku berusaha menyimak kata-katanya, ... ditinggal di Bogor ?, siapa wanita itu ? apa yang terjadi ? bukankah aku pergi dengannya ke Jakarta ? lalu siapa kalau begitu wanita yang menyerupai dirinya dari Bogor hingga terjun ke telaga ?

BARU KUSADARI BAHWA YANG BERSAMAKU ITU BUKAN ISTERIKU

Tiba-tiba aku berteriak keras : " Tidaaaaaaak ! ", " Aku tidak tahu bahwa itu bukan kau !, mahluk itu menyerupai kau kukira itu kau " lanjutku keras. Kemudian aku memeluknya dan berkata dengan penuh perasaan : " Syukurlah bahwa kau masih hidup, kukira sudah matiiiii ! "

Karena aku memeluknya seakan takut kehilangan dirinya, cairlah emosinya dan tenang, kemudian meminta penjelasan lengkap dariku.

Kujelaskan kronologis kejadiannya, tentu saja dengan menyembunyikan bagian hubungan intimku dengan mahluk itu, tak percaya Isteriku atas ceritaku yang tak masuk diakalnya, untuk lebih meyakinkannya kuajak dirinya untuk menelepon interlokal ke Jakarta.

JADI YANG BERSAMAKU ITU MAHLUK JEJADIAN ?

Terkejut Pamannya mengetahui kejadian ini, atas permintaanku dan keingin-tahuannya atas peristiwa yang terjadi ini, esok harinya dengan kereta-api terpagi segera ia berangkat ke Bandung.

Pamannya sendiri dengan bersumpah meyakinkan Isteriku bahwa aku, suaminya saat itu datang ke resepsi pernikahan bersama dia, Isterinya, malah foto-foto keluarga bersama, nanti bila sudah di-afdruk akan dikirim ke Bandung. Paman terpaksa bermalam di Bandung karena Isteriku sangat terpukul dan histeria dengan kejadian ini, masih belum masuk diakalnya kejadian ini bisa terjadi.

Keesokan harinya salah seorang putra paman datang dengan keluarga yang lainnya dan ikut meyakinkan isteriku dengan kesaksian mereka dan membawa hasil cetakan foto-foto perkawinan, mereka dengan sangat bingung memperlihatkan foto yang ada diriku, putriku Nanda sedang menggandeng bayangan kosong. Ternyata mahluk berwujud isteriku itu tidak nampak dikertas foto.......

Tiba-tiba isteriku terhuyung, dengan cepat kupeluk tubuhnya agar tidak jatuh, ternyata ia pingsan. Kejadian ini begitu dahsyat menghantam jiwanya hingga tidak tahan.

Mungkin terbayang difikirannya apa saja yang mungkin dilakukan oleh suaminya terhadap mahluk itu karena mengira bahwa mahluk itu adalah dia isterinya. Siapa yang tahu kecuali aku dan iih... mahluk yang menjijikan itu.

SIAPAKAH SESUNGGUHNYA YANG BERSAMAKU ITU DI JAKARTA ?

Hingga saat ini semua masih tak mengerti, siapakah sesungguhnya wanita yang bersamaku itu, yang naik kemobilku mulai dari toko roti di Bogor, tidur dihotel bersamaku yang akhirnya terjun ke Telaga Warna ?. Demikian juga yang ada difikiran Isteriku dan keluarganya..........

Sedangkan Nanda masih sering bercerita kepada keluarga yang datang bahwa dirinya sangat senang diajak pergi jalan-jalan ke Jakarta bersama ibunya, menginap dihotel, pergi kepesta, ia masih belum bisa mengerti bahwa dengan siapa dia pergi itu bukan ibunya asli............


Suatu malam aku bermimpi didatangi oleh mahluk hijau yang menyeramkan, berbadan reptil seperti bunglon tapi kepalanya menyerupai Isteriku, ia minta maaf telah mengacaukan keluargaku dengan mewujud dan menggantikan Isteriku pergi ke Jakarta. Itu karena dia tertarik mendengar celoteh Isteriku yang mesra ditepi telaga mengenai enaknya bepergian ke pesta pernikahan, jadi ia ikut dalam mobilku karena ingin tahu, begitu melihat Isteriku pergi masuk ke toko roti, ia mendapat kesempatan dan mendahului masuk kemobil dengan mewujud menyerupai Isteriku.

Mahluk itu bilang bahwa ia sangat menikmati perjalanan itu dan tidak akan pernah melupakannya, berharap demikian juga denganku. Akhirnya dia minta maaf atas segala perbuatannya itu dan juga minta maaf kepada Isteriku.

Hatiku yang tadinya emosi mendengar pengakuannya akhirnya luluh dan memaafkannya karena melihat tetesan air mata dipipinya tanda penyesalan dan ketulusan hatinya.

Mahluk itu kemudian lenyap setelah sebelumnya mendoakan agar keluargaku selalu rukun-rukun dan bahagia........

Seperti diceritakan kepada H. Mohammad B.I.